Minggu, 06 September 2009

HASIL PENELITIAN KAKAO

KLON UNGGULAN KAKAO MULIA
Klon DRC 16 telah dilepas dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 735/Kpts/TP.240/7/97, sebagai bahan tanam anjuran baru kakao mulia. Klon ini memiliki produktivitas (1.735 kg per ha per tahun), lebih tinggi dari klon anjuran lama DR 1, DR 2 dan DR 38, tahan penyakit busuk buah (Phytophthora palmivora), mutu hasil sesuai permintaan konsumen (berat per biji kering ? 1,20 gram, kandungan lemak biji ? 54 persen), dan tahan cekaman ke-keringan. Klon tersebut sudah ditanam cukup luas di beberapa perkebunan negara dan swasta nasional, khususnya di daerah Jawa Timur. Sedangkan beberapa klon harapan baru pengujian lanjutannya sedang berlangsung.


BAHAN TANAM KAKAO LINDAK
nomor klon lindak anjuran baru telah dilepas, yaitu klon GC 7 dengan SK Menteri Pertanian No. 736/Kpts/ TP.240/7/97, dan klon ICS 13 dengan SK Menteri Pertanian No. 736/Kpts/TP.240/ 7/97. Klon GC 7 memiliki produktivitas (2.035 kg/ha /th), lebih tinggi dibandingkan klon kontrol DR 1, mutu hasil sesuai per-mintaan konsumen (berat per biji kering ? 1,20 gram, kandungan lemak biji ? 53 persen), dan tahan cekaman ke-keringan, demikian pula klon ICS 13 yang mempunyai daya produktivitas 1.827 kg per ha per tahun, berat per biji kering 1,05 g, dengan kandungan lemak biji 51 persen. Klon tersebut sudah ditanam cukup luas di beberapa perkebunan negara dan swasta nasional, serta dijadikan bahan untuk program klonalisasi.
Klon KW 25, KW 32, KW 33, KW 38, KW 43, KW 65, KW 66, KW 69, KW 70, KW 71, KW 72, KW 75 dan KW 76 yang memiliki toleransi tinggi terhadap penyakit busuk buah adalah beberapa klon harapan baru. Di-samping klon RCC 70, RCC 73, RCC 74 atau RCC 75 yang berpotensi menghasilkan produksi tinggi dan, mutu hasilnya pun sesuai selera konsumen. Kadar lemak biji kering klon-klon diatas berkisar antara 53 - 58 persen.
Untuk bahan tanam hibrida unggul anjuran diantaranya adalah benih dari hasil persilangan DR 1 x Sca 12, DR 1 x Sca 6, ICS 60 x Sca 6, GC 7 x Sca 12, DRC 16 x Sca 12. Bahan tanam tersebut diatas memiliki produktivitas rata-rata per hektar ? 2 ton, ukuran dan berat biji relatif seragam sekitar 1,2 gram per biji kering. Hibrida lainnya yang dianjurkan adalah TSH 858 x Sca 12, Pa 300 x Sca 12, UIT 1 x Sca 12, IMC 67 x Sca 12, bahan tanam tersebut produksi dan kualitas hasil-nya juga tinggi.


TEKNOLOGI SAMBUNG SAMPING UNTUK REHABILITASI TANAMAN KAKAO DEWASA
Pertanaman kakao lindak di Indonesia hampir seluruhnya menggunakan bahan tanam asal benih. Ke-seragaman daya hasil dan mutu biji tanaman kakao asal benih tidak terjamin karena tanaman kakao me-nyerbuk silang. Menghadapi persaing-an yang makin ketat, maka pentingnya produktivitas dan mutu biji yang tinggi dan homogen perlu mendapat per-hatian para produsen. Pertanaman klonal merupakan upaya untuk memperoleh produktivitas dan mutu yang tinggi tersebut. Tindakan klonalisasi perlu diawali dengan tersedianya bahan tanam unggul dalam jumlah cukup serta teknologi klonalisasi yang handal, khususnya untuk batang bawah berupa semaian yang sudah dewasa/tua.
Rehabilitasi untuk klonalisasi tanaman kakao dewasa dapat di-lakukan dengan sambung samping (side-cleft grafting). Teknologi ini semula dikembangkan di Malaysia dan setelah banyak penyempurnaan kini sudah luas diterapkan pekebun Indonesia. Dengan teknologi ini pekebun tidak mengalami kehilangan hasil dari batang bawahnya. Tanaman hasil sambung samping telah mulai dapat dipetik buahnya pada umur 18 bulan setelah disambung, dan setelah berumur 3 tahun hasil buah sebanyak 15-22 buah per pohon. Perlu dipahami bahwa rehabilitasi dengan sambung samping adalah pekerjaan jangka panjang. Akhir-nya rehabilitasi perlu dilengkapi dengan tindakan pemenuhan populasi tanam-an dengan sulaman bibit klonal.


PENGGUNAAN TANAMAN PISANG SEBAGAI PENAUNG SEMENTARA KAKAO
Penggunaan tanaman pisang sebagai penaung sementara serta usaha-tani tanaman semusim sebagai pre cropping selama persiapan penaung, dapat mengisi kekosongan pendapatan pekebun sekitar 3 tahun. Tanaman jagung, sorgum, kacang tanah, atau kedelai menunjukkan B/C > 1 dan limbahnya positif untuk pertumbuhan kakao selanjutnya. Tanaman pisang ditanam pada jarak 3 x 6 m atau 6 x 6 m untuk kakao berjarak tanam 3 x 3 m. Kultivar pisang disarankan yang bobot tandannya besar dan laku di pasar. Sebaiknya tidak menanam Cavendish bila tempatnya kering sebab konsumsi air kultivar ini sangat kuat. Tiap rumpun pisang setiap saat cukup dipelihara tiga batang dengan pengaturan umur anakan berselang 5 bulan. Pemupuk-an, sanitasi, dan pengendalian hama/ penyakit pisang dilakukan sesuai baku teknis. Pemupukan dan pengaturan anakan penting untuk mencegah turun-nya bobot tandan antar generasi. Pem-berian minyak tanah 2,5 ml pada anakan yang dipotong dan ditugal tengahnya dapat membunuh tanpa mengganggu bonggolnya. Hasil buah pisang mulai dapat dipanen satu tahun kemudian, yaitu pada saat bibit kakao dipindah ke kebun, dan panenan berikutnya berselang 5-6 bulan tergantung pada umur tiap anakan. Pada tahun pertama pekebun dapat panen tandan dari generasi pertama, tahun kedua dapat panen dari generasi kedua dan ketiga, dan seterusnya. Tanaman pisang dibongkar setelah kakao memasuki tanaman menghasilkan, yaitu pada umur kakao 4 tahun. Limbah batang, pelepah, dan daun pisang dapat me-nyumbang unsur hara, maka sebaik-nya dikembalikan ke kebun untuk mulsa kakao. Pola tanam demikian ter-bukti tidak mengganggu pertumbuhan kakao dan pekebun tidak mengalami kekosongan sumber penghasilan. Teknologi ini sudah dilaksanakan pada perkebunan besar di Jawa Timur.


UNIT PROSESING KAKAO RAKYAT DENGAN TENAGA MATAHARI
Produksi kakao Indonesia pada tahun 1996 telah mencapai 300.000 ton dan menduduki posisi nomor 2 di-antara produsen kakao dunia. Lebih dari 70 persen produksi tersebut adalah kakao rakyat dan perannya akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
Peningkatan produksi kakao perlu diimbangi dengan dukungan sarana pengolahan yang memadai. Kekurangan sarana pengolahan akan mengakibatkan mutu biji kakao tidak konsisten, terkontaminasi, keasaman tinggi, kurang terfermentasi, dan sangat beragam sehingga biji kakao asal Indonesia dikenakan potongan harga secara otomatis sebesar US$ 100 per ton biji kakao di terminal London, sedangkan konsumen Amerika Serikat menerapkan automatic detention untuk pemeriksaan dan fumigasi ulang. Ke-rugian finansial dari keduanya ditaksir sekitar 125 milyar per tahun.
Salah satu upaya untuk me-ngatasi masalah tersebut adalah dengan penerapan konsep pengolahan biji kakao rakyat secara sentralisasi.
Keuntungan cara ini adalah:
- Skala produksi yang ekonomis ter-penuhi.
- Standardisasi cara pengolahan ter-capai.
- Keseragaman dan konsistensi mutu terjamin.
- Pengawasan mutu melekat dapat terkendali.
- Rantai pemasaran produk diper-pendek.
Untuk mendukung konsep ter-sebut, saat ini telah dilakukan rekayasa unit prosesing kakao rakyat dengan tenaga matahari. Unit prosesing ini memadukan antara unit fermentasi dan pengeringan di dalam gedung pengolahan dengan atap kolektor energi matahari. Selain mutu biji kakao lebih seragam, biaya pengolahan relatif rendah karena hemat tenaga kerja dan hemat energi (bahan bakar).
Unit prosesing dengan sumber energi kombinasi ini berkapasitas 5 ton biji kakao segar per 3 hari dan mampu mengolah hasil kebun seluas 150 ha pada tingkat produktivitas 500 kg biji kakao kering per ha per tahun, dengan biaya pembangunan Rp 50 juta setiap unit, biaya operasional Rp 63 per kg, dan umur ekonomis 30 tahun.
Pemasyarakatan teknologi ini ke pengguna khususnya perkebunan rakyat dapat ditempuh melalui pola kemitraan, yang melibatkan kelompok tani (koperasi), pengusaha, dan eksportir.



UNIT MESIN SORTASI KONTINYU BIJI KAKAO TIPE SILINDER BERPUTAR
Salah satu aspek mutu biji kakao yang sangat penting bagi konsumen adalah keseragaman ukuran biji. Untuk memenuhi persyaratan tersebut, biji kakao hasil produksi perkebunan rakyat maupun perkebunan besar harus melewati proses sortasi sebelum siap di ekspor. Sebagian besar proses sortasi saat ini masih dilakukan secara manual penuh. Biaya sortasi dengan cara ini relatif mahal kurang lebih 40 persen dari total biaya pengolahan. Selain itu, kelangkaan tenaga kerja terampil dan tenaga kerja di sektor perkebunan karena adanya pergeseran angkatan kerja pedesaan ke arah industri dan jasa, menyebabkan proses sortasi menjadi kurang optimal. Ini terlihat dari keragaman mutu hasil sortasi yang masih menonjol. Sortasi secara mekanis tampaknya merupakan salah satu alternatif yang cocok untuk sortasi biji kakao yang lebih efisien di masa datang. Mesin sortasi silinder tipe tunggal mempunyai dimensi; panjang 3,5 m, tinggi 2 m, dan lebar 0,8 m. Silinder pengayak terdiri dari 3 jenis lubang pengayak yang masing-masing mempunyai panjang 1 m dengan corong keluaran sebanyak 4 buah dan diputar dengan motor listrik berdaya 3 HP.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas mesin optimal sebesar 1.246 kg per jam pada kecepatan putar silinder sortasi 16 rpm dan kemiringan 5,4°. Biaya sortasi adalah Rp 26 per kg atau turun 50 persen dari biaya sortasi secara manual penuh. Produktivitas sortasi manual meningkat dari 110,16 kg per orang per hari menjadi 213,76 kg per orang per hari.



EFISIENSI PENGUSAHAAN KAKAO PADA BEBERAPA ENDOWMENT YANG BERBEDA
Dalam kaitannya untuk melakukan efisiensi pengusahaan kakao, terdapat dua kelompok faktor yang berpengaruh terhadap produksi kakao, yaitu penggunaan faktor input dan faktor endowment. Dalam penelitian ini faktor input yang diamati adalah penggunaan pupuk, pestisida, dan tenaga kerja; sedangkan faktor endowment yang diamati adalah implementasi manajerial, keadaan lingkungan kebun, dan ke-adaan intrinsik tanaman.
Satuan pengamatan yang di-gunakan adalah blok tahun tanam. Banyaknya satuan pengamatan yang digunakan adalah 793 buah, yang ter-diri atas 483 blok tahun tanam kakao mulia dan 310 blok tahun tanam kakao lindak.
Berdasarkan hasil analisis, per-ubahan-perubahan produktivitas kakao terutama ditentukan oleh implementasi manajerial. Implementasi manajerial kebun mengakibatkan 39,2 persen dari total perubahan produktivitas. Implementasi manajerial afdeling mengakibatkan 44,5 persen dari total perubahan produktivitas. Keadaan lingkungan kebun, terutama curah hujan, mengakibatkan perubahan 3,4 persen, keadaan intrinsik tanaman, baik tanaman kakao maupun tanaman pe-naung, mengakibatkan perubahan 5,0 persen, sedangkan perbedaan peng-gunaan faktor input mengakibatkan 7,2 persen.
Berdasarkan hasil tersebut, kemampuan manajerial sangat penting artinya di dalam usaha peningkatan efisiensi pengusahaan kakao.
Kisaran Technical Efficiency Rate dari seluruh afdeling kebun adalah 38- 81 persen. Dari hasil estimasi ini dapat dinyatakan bahwa dengan menggunakan faktor input yang sama, masih ter-dapat kemungkinan untuk meningkatkan produksi kakao. Kisaran efisiensi alokatif untuk kakao mulia adalah 17,8–95,3 persen, sedangkan kisaran efisiensi alokatif untuk kakao lindak adalah 15,4–100 persen. Hal ini me-nunjukkan bahwa penggunaan faktor input masih dapat dioptimalkan lagi sesuai dengan kondisi harga faktor input dan harga biji kakao.



Alat Pengukur Derajat Fermentasi Biji Kakao (Slaty Meter)
Fermentasi biji kakao merupakan salah satu tahap pengolahan yang menentukan citarasa yang akan di-hasilkan. Penentuan derajat fermentasi yang biasa dilakukan adalah berdasarkan warna biji kakao, yaitu dilakukan dengan uji belah dan pengukuran indeks fermentasi secara spektrofotometri. Kedua cara ini memerlukan waktu yang lama dan tidak praktis. Pengawasan mutu memerlukan cara penentuan yang cepat, praktis, murah dan andal. Slaty meter dirancang untuk mengukur derajat fermentasi yang memenuhi spesifikasi tersebut. Alat ini dirancang dengan menggunakan dasar refleksi sinar.
Slaty meter menggunakan tiga penyaring warna, yaitu warna merah, hijau dan biru. Keluaran dari sensor sinar untuk masing-masing penyaring disalurkan ke suatu unit pengatur (signal conditioner) yang terdapat di bagian transducer. Signal selanjutnya diukur besarannya menggunakan panel meter. Ketiga keluaran dari masing-masing penyaring diuji koefisien korelasinya dengan hasil pengukuran indeks fer-mentasi secara spektrofotometri.
Hasil pengujian prototipe Slaty meter menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang baik antara hasil pe-ngukuran derajat fermentasi slaty meter menggunakan penyaring warna merah, hijau, dan biru dengan indeks fermentasi secara spektrofotometri. Koefisien korelasi (R) ketiga penyaring warna tersebut adalah 0,77 untuk pe-nyaring warna merah, 0,82 untuk pe-nyaring warna hijau, dan 0,77 untuk penyaring warna biru.
Dalam sistem pengawasan mutu di tingkat produsen maupun pedagang, slaty meter dapat digunakan sebagai alat pengukur derajat fermentasi yang obyektif, praktis, dan cepat.



Regenerasi Tanaman Kakao dari Kultur Suspensi Embriogenik
Pada tanaman kakao eksplan batang, daun, mahkota bunga, dan nuselusnya dapat menghasilkan embrio somatik walaupun persentase dan laju penggandaannya sangat rendah. Selain itu, adanya penghambat endogen dalam kotiledon juga menekan perkecambahan embrio somatik menjadi planlet.
Penggunaan medium cair merupakan salah satu cara untuk meningkatkan laju penggandaan embrio somatik dan mengurangi senyawa yang menghambat perkecambahan. Pertumbuhan kalus yang berasal dari eksplan mahkota bunga kakao klon DR 1 dalam medium cair sangat di-pengaruhi oleh fase kalus yang di-gunakan sebelum dikulturkan di dalam medium cair. Kalus yang bersifat nodular mampu menghasilkan per-tumbuhan yang baik yaitu membentuk agregat kecil yang berwama kuning. Penambahan 2,4-D sebanyak 0,5 mg/l ke dalam medium mampu meningkatkan pertambahan berat basah kalus menjadi tiga kali berat basah pada saat dikulturkan ke dalam medium cair. Namun, dengan mengkulturkan kalus di dalam medium MS yang mengandung setengah konsentrasi hara nutrisi tanpa zat pengatur tumbuh, tidak mampu menghasilkan struktur yang embriogenik.


Penanggulangan Penggerek Buah Kakao
Penggerek buah kakao (PBK) Conopomorpha cramerella merupakan hama penting tanaman kakao di Indonesia. Operasional pelaksanaan sistem pangkasan eradikasi (SPE) yang pernah disarankan ternyata terhambat oleh faktor-faktor sosial budaya, tenaga kerja dan ekonomi. Untuk mengatasi kendala itu, sekarang ada sistem eradikasi berupa penyemprotan dengan zat pe-ngatur tumbuh (ZPT) Ethepon dan rampasan buah. Teknologi ini dapat membebaskan tanaman dari serangan PBK selama tiga bulan dengan kondisi tanaman yang tetap baik, batang tidak perlu dipangkas, sehingga daur hidup PBK efktif terputus.
Penyemprotan ini memerlukan biaya untuk bahan dan tenaga sebesar Rp 150.000 per hektar. Pendapatan yang diperoleh Rp 1.125.000 per hektar per tahun atau 75 persen dari perkiraan pendapatan pekebun rakyat yang Rp 1.500.000 per hektar per tahun. Ini lebih baik dibanding tertunda atau hilangnya pendapatan selama satu tahun dengan pelaksanaan SPE.
Eradikasi umumnya tidak dapat dilakukan di perkebunan rakyat. Dalam keadaan demikian, pengendalian kimia-wi perlu dilakukan secara selektif, efektif, dan efisien. Tetapi sesungguhnya belum ada jenis insektisida yang di-sarankan untuk mengendalikan PBK. Badan Litbang Pertanian bekerja sama dengan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan dan perusahaan pestisida telah melaksanakan penelitian untuk memperoleh jenis dan dosis insektisida yang efektif.
Penyemprotan buah-buah kakao dan cabang-cabang horizontal lima kali dengan selang 10 hari dimulai sejak buah masih muda dapat menurunkan persentase buah terserang PBK, jenis insektisida yang efektif adalah Decis 2,5 EC, Matador 25 EC, Sumialpa 25 EC, Buldok 25 EC, Cymbush 50 EC, Bestox 50 EC, dan Talstar 25 EC. Di-bandingkan tanpa penyemprotan, mereka mampu menurunkan persentase buah terserang pada saat panen sebesar 64,9–94,9 persen.



Diversifikasi Tanaman Kakao Muda dengan Garut (Marananta Arundinacea L.)
Usaha tanaman sela selama kakao masih muda merupakan upaya optimasi lahan untuk memperoleh pendapatan selama hasil dari tanaman pokok belum ada. Telah diteliti pe-nanaman garut (marananta arun-dinacea L.) diantara tanaman kakao umur 3 tahun jarak tanam 3 x 3 (m), dengan penaung tetap sengon (Albizzia falcate), mamba (Azadirachta indica), dan gamal (Gliricidia sepium). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil rizom garut bias mencapai 9,6 – 16,9 ton/ha dan memberikan B/C ratio 1,94 – 3,41 tergantung pada spesies penaung serta umur dipanen. Hasil tertinggi diperoleh dari arel penaung sengon dan dipanen umur 15 bulan, rendemen pati sekitar 14 %, sehingga setiap hektar dapat diperoleh 1,37 – 2,37 ton pati. Tanaman sela garut tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan kakao muda, pertumbuhan kakao ter-pengaruh oleh spesies penaung tetap. Penaung sengon, karena terlalu gigas, dan sebaliknya mimba karena terlalu kurus, menghambat pertumbuhan kakao. Dibandingkan dengan unsur hara yang dikandung biji kakao, unsur hara yang diangkut rizom garut sedikit. Urutan hara yang dikandungnya adalah K>N>PSO4>Mg>Ca>Fe> Zn>Mn>Cu.



Penelitian Pengendalian Mutu Sistem Penyimpanan Biji Kopi dan Kakao di Tingkat Eksportir
Penelitian untuk mengevaluasi fumigasi biji kakao menggunakan gas CO2 bertekanan tinggi dilakukan dalam chamber yang mampu menahan tekan-an tinggi sampai dengan 50 bar. Tekanan gas CO2 yang dievaluasi adalah 4,7,10,dan 13 bar dengan waktu fumigasi 2 – 16 jam. Serangga ujinya adalah Ephestia cautella, Araecerus fasciculatus, dan Tribolium castaneum.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa untuk mencapai mortalitas total terhadap ketiga serangga uji maka diperlukan tekanan gas CO2 terendah 4 bar dengan waktu fumigasi 8 jam. Pada tekanan gas CO2 sebesar 10 bar atau 13 bar, waktu yang diperlukan untuk mencapai mortalitas total adalah 4 jam. Pada kondisi fumigasi tersebut, mutu biji kakao tidak me-ngalami perubahan yang nyata. Pada penelitian perbaikan metode peng-ambilan contoh untuk penentuan kadar kotoran telah dievaluasi kinerja separator sebagai alat bantu dalam penentuan kadar kotoran, dibandingkan dengan menggunakan alat bantu cerucuk (spearing method) yang merupakan metode yang ditetapkan dalam standard mutu biji kakao SNI No. 05-2323-1998. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kedua alat Bantu tersebut tidak me-nunjukkan kinerja yang baik dalam penentuan kadar kotoran karena hasil pengukurannya menyimpang 37 – 130 % dibandingkan dengan kadar kotoran yang terdapat dalam contoh uji.
Kesimpulan dari penulisan ini adalah:
1. Fumigasi menggunakan gas CO2 dalam tekanan tinggi dapat men-capai mortalitas total selama 8 jam waktu fumigasi terhadap hama gudang Ephestia cautella, Araecerus fasciculatus, dan Tribolium casta-neum.
2. Mutu biji kakao [nilai pH, TA (titratable acids), dan asam non-volatil] tidak dipengaruhi oleh per-lakuan fumigasi gas CO2 tekanan tinggi.
3. Separator dan cerucuk sebagai alat bantu dalam penetapan kadar kotor-an mempunyai kinerja yang lebih rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar